Pendidikan

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan

Hari Valentine dikenal sebagai hari kasih sayang. Namun, sejarah lahirnya Hari Valentine sebenarnya nggak berhubungan sama cinta, lho! Kok bisa? Yuk, kepoin!

Hari Valentine adalah hari yang ikonis banget sama percintaan. Yang pacaran bilang “I love you”, ngasih cokelat, mengirim bunga, quality time sambil dinner bareng. Yang jomblo hanya ada tiga pilihan: nembak gebetan dan diterima, nembak gebetan tetapi ditolak, atau diam doang di rumah sambil masih memendam perasaan.

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 73
Gif Hari Valentine. (Dok. Tenor.com)

Kalau ngebahas apa arti Hari Valentine, it’s all about love; hari ketika elo bisa ngungkapin perasaan kepada siapa pun yang elo cintai.

Menonton: Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 74
Gif mengucapkan “I love you”. (Dok. Tenor.com)

Namun, elo tahu nggak sih kalau sebenarnya sejarah Hari Valentine nggak ada hubungannya sama cinta? Terus, kenapa bisa dianggap sebagai hari kasih sayang?

Nih, gue kasih tahu jawabannya.

Sejarah Lahirnya Hari Valentine

Sebelum membahas tentang sejarah Hari Valentine, sebenarnya apa artinya Valentine? Kalau merujuk pada Cambridge Dictionary, Valentine adalah kartu unyu yang biasa dikirim seseorang buat orang tercinta saat Hari Valentine.

Terus, kenapa namanya harus Valentine?

Ada beberapa versi yang berkembang tentang sejarah lahirnya Hari Valentine. Dua legenda yang paling kuat adalah kisah Santo Valentinus dan Festival Lupercalia. Gue akan ceritain satu persatu.

Kisah Santo Valentinus

Sekitar tahun 1600-an, kelompok biarawan asal Belgia bernama Bollandist bikin manuskrip kumpulan cerita para orang suci (santo) di seluruh dunia. Manuskrip bernama Acta Sanctorum itu ditulis sesuai urutan tanggal peringatan para santo.

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 75
Tampilan Acta Sanctorum yang diambil dari Museo della Cattedrale, Italia. (Dok. Sailko via Creative Commons)

Acta Sanctorum selesai ditulis pada tahun 1940. Salah satu cerita yang ditulis adalah hari raya pada 14 Februari. Di dalamnya, tercantum sejarah tentang tiga orang suci dengan nama yang sama, Santo Valentinus. Mereka meninggal pada tanggal yang sama di abad ketiga, tetapi pada tahun yang berbeda.

Santo Valentinus pertama meninggal di Afrika. Dia dituliskan meninggal sama 24 tentara. Namun, nggak dijelasin gimana detailnya.

Santo Valentinus kedua yaitu biarawan Roma sekaligus dokter di Abad Pertengahan. Saat itu, kebanyakan orang Romawi menjadi pagan (penyembah berhala). So, Valentinus ngajak masyarakat buat ninggalin paganisme dan memeluk agama Kristen.

Kaisar Romawi saat itu, Claudius II, marah sama aksi Valentinus. Dia pun memerintahkan bawahannya buat nangkap Valentinus. Valentinus langsung dijeblosin ke rumah tahanan. Di sana, Valentinus diawasi sama ketua tahanan bernama Asterius.

Di dalam tahanan, Valentinus tetap semangat buat ngenalin agama Kristen kepada penghuni tahanan lain yang menganut paganisme. Asterius jadi penasaran sama Valentinus. Karena Asterius tahu kalau Valentinus adalah dokter yang dikenal bisa nyembuhin penyakit, Asterius nantang Valentinus buat nyembuhin anaknya dari kebutaan. Kalau anaknya bisa melihat, Asterius dan sekeluarga bakal memeluk Kristen.

Dibawalah anak Asterius di hadapan Valentinus. Setelah mendoakan si anak dan naruh tangannya di mata anak Asterius, anak tersebut bisa melihat lagi. Asterius sekeluarga langsung memeluk Kristen.

Kaisar Claudius II mendengar kabar itu. Dia murka dan minta semua orang yang terlibat buat dieksekusi. Santo Valentinus dipukuli, dilempari pakai batu, dan dipenggal. Kematiannya tertulis pada tanggal 14 Februari 270.

Santo Valentinus ketiga adalah seorang uskup di Terni, Italia. Kisah Santo Valentinus ketiga ini mirip sama kisah Santo Valentinus kedua. Valentinus menolak paganisme. Dia juga dikenal sebagai dokter yang bisa nyembuhin cacat fisik.

Suatu hari, ada warga setempat yang minta tolong Valentinus buat nyembuhin anaknya yang nggak bisa bicara. Valentinus bersedia. So, datanglah keluarga si anak dan para cendekiawan di Terni. Mereka menyaksikan Valentinus berdoa dan bikin anak itu sembuh. Mereka pun langsung memeluk agama Kristen.

Ending-nya sama: Kaisar Claudius II memerintahkan buat memenggal Santo Valentinus, karena menolak paganisme dan ngajak orang ninggalin paganisme.

Kemiripan cerita antara kedua santo itu dianggap bukan tentang dua orang yang berbeda, tetapi satu orang dengan dua versi cerita yang berbeda.

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 76
Santo Valentinus memegang secarik kertas. (Dok. interestingliterature.com via Creative Commons Zero)

Kedua versi yang mirip itu kemudian berkembang dalam satu cerita. Menurut legenda, Kaisar Claudius II ngelarang para prajurit single buat menikah. Soalnya, prajurit yang udah nikah dan punya anak cenderung kalah dalam peperangan, karena fokus mikirin keluarga.

Santo Valentinus, yang jadi pendeta di Roma, nggak setuju sama larangan itu. Dia tetap menikahkan para pasangan secara diam-diam. Namun, aksinya terciduk sama Kaisar Claudius II dan bikin dia masuk tahanan.

Di dalam tahanan, sikap Valentinus bikin kepala penjaga yang bernama Asterius terkesan. Asterius minta tolong Valentinus buat ngajarin Julia, anak perempuannya. Soalnya, Julia buta dan nggak bisa belajar sendiri. Sejak saat itu, Santo Valentinus berteman sama Julia.

Suatu hari, Kaisar Claudius II nawarin Valentinus buat bebas, asalkan dia join sama kaum pagan. Valentinus menolak dan ngajak Kaisar Claudius II buat memeluk Kristen. Kaisar jadi marah dan mutusin buat menghukum mati Valentinus.

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 77
Kaisar Claudius II. (Dok. Worcester Art Museum, Worcester, Massachusetts)

Sebelum dibunuh, Valentinus nulis catatan kecil buat Julia, yang berpesan agar Julia tetap mempertahankan imannya. Di akhir catatan, dia menuliskan “From your Valentine.”

Namun, Bollandist nggak punya catatan dasar sejarah tentang versi yang berkembang itu.

Baca juga: Infografis: Gaya Pacaran Berdasarkan Attachment Styles

Festival Lupercalia

Di era Romawi Kuno, Lupercalia merupakan festival kesuburan yang dilakukan oleh kaum pagan. Festival ini diadakan pada 13-15 Februari setiap tahun. Festival Lupercalia didedikasikan buat Faunus (dewa pertanian Romawi) serta Romulus dan Remus (pendiri Romawi). Elo bisa baca sejarah Romawi di sini ya.

Awalnya, kaum pagan kumpul di gua suci yang diyakini jadi tempat bayi Romulus dan Remus dibesarkan oleh serigala. Pemimpin festival ngorbanin kambing untuk meminta kesuburan, dan anjing untuk kemurnian. Kulit kambing tersebut diambil dan dijadikan pecut.

Para anggota festival kemudian turun ke jalan. Di sana, para perempuan udah berbaris tanpa busana. Mereka siap buat dicambuk pakai pecut. Kaum pagan percaya kalau cambuk itu bisa menyuburkan perempuan.

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 78
Perempuan dicambuk dengan kulit kambing saat Festival Lupercalia. (Dok. Rijksmuseum via Creative Commons)

Festival Lupercalia juga ngadain “undian jodoh”. Nama-nama perempuan di kota ditulis dan dimasukkan ke dalam sebuah guci besar. Para laki-laki single kemudian mengambil gulungan nama di guci secara acak. Nantinya, nama perempuan yang tertera bakal jadi pasangannya di tahun tersebut.

However, Paus Gelasius (Paus Gereja Katolik Roma saat itu) ngerasa kalau praktik Lupercalia nggak sesuai sama iman Kekristenan. Pada akhir abad keempat, Paus Gelasius ngumumin kalau 14 Februari jadi Hari Valentine buat mengenang Santo Valentinus. Penetapan Hari Valentine pada 14 Februari itu juga dianggap sebagai cara buat ngilangin festival Lupercalia yang dilaksanakan pada 13-15 Februari.

Baca juga: Cinta Masa Remaja, Apa Hubungannya dengan Pubertas?

Romantisasi Hari Valentine

Kalau elo baca kisah Santo Valentinus tadi, nggak ada unsur cinta sama sekali. Yang ada malah pembunuhan Santo Valentinus. Unsur cinta muncul dalam versi festival Lupercalia, itu pun dalam undian jodoh.

Profesor bahasa Inggris dari University of Kansas, Jack B. Oruch, mengungkap hasil temuannya tentang hubungan Hari Valentine dengan cinta. Oruch nemuin kalau awal mula romantisasi Hari Valentine dipelopori oleh penyair Inggris, Geoffrey Chaucer.

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 79
Geoffrey Chaucer. (Dok. Frédéric via Creative Commons)

Pada tahun 1375, Chaucer menulis puisi berjudul Parliament of Foules. Chaucer nyeritain tentang burung-burung yang berkumpul di musim kawin. Semua burung jantan berusaha menarik perhatian burung betina. Chaucer kemudian nyebut kalau hari berkumpulnya untuk kawin adalah Hari Valentine. Setelah perkawinan burung terjadi, datanglah musim semi.

Penulis legend asal Inggris, William Shakespeare, terinspirasi sama Chaucer. Dia juga ikut mengabadikan Hari Valentine dalam karyanya, salah satunya adalah naskah drama berjudul Hamlet (1599-1601). Karakter Ophelia yang kasmaran sama Hamlet nyebut dirinya sebagai “Valentine-nya Hamlet”.

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 80
Ophelia dalam drama Hamlet, Babak 4, Adegan 5. (Dok. Metropolitan Museum of Art via Creative Commons)

Tomorrow is Saint Valentine’s day. All in the morning betime, And I a maid at your window, to be your Valentine.

Ophelia dalam drama Hamlet, Babak 4, Adegan 5.

Sejak saat itu, bangsawan Eropa mulai bikin surat cinta buat dikirim ke orang tersayang saat musim semi. Salah satunya adalah Charles of Orléans, Duke of Orleans, Prancis. Waktu Charles ditahan di Menara London, dia menulis surat cinta kepada istrinya pada Februari 1415. Dia nulis kalau dia cinta banget sama istrinya, dan memanggil istrinya dengan “My very gentle Valentine”.

Komersialisasi Hari Valentine

Valentine bertransformasi dari perasaan hingga ke cuan. Pada abad ke-18, kebiasaan para bangsawan buat bikin surat cinta menginspirasi para pebisnis di Inggris untuk membuat kartu Valentine.

Bisnis ini kemudian menyebar ke Amerika. Pada tahun 1913, perusahaan bernama Hallmark Cards mulai memproduksi kartu Valentine secara massal. Sejak saat itu, bulan Februari sudah berbeda di seluruh dunia, sampai akhirnya elo jadi kenal Hari Valentine di masa sekarang.

Sejarah Hari Valentine yang Justru Nggak Ada Cinta-cintaan 81
Postcard Valentine. (Dok. The Newberry via Wikimedia Commons)

Gimana, sudah tercerahkan belum tentang sejarah Hari Valentine? Atau elo pernah dengar sejarah lain tentang Hari Valentine? Kasih tahu gue di kolom komentar ya!

Baca Juga Artikel Lainnya

Referensi




Hamlet: Act 4, Scene 5 – Shakespeare Navigators

History of Valentine’s Day – History.com (2022)

Saint Valentine’s Story – Learn Religions (2019)

 The Dark Origins of Valentine’s Day – National Public Radio (2011)

The Origins of St. Valentine’s Day – JSTOR Daily (2015)

The True History of Valentine’s Day Might Surprise You—Here’s What to Know – CountryLiving (2022)

Valentine’s Day wasn’t always about love – National Geographic (2022)

Diposting oleh: nomortogelhariini.net

Kategori: Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button

Bạn đang dùng trình chặn quảng cáo!

Bạn đang dùng trình chặn quảng cáo!