Pendidikan

Latar Belakang Keterlibatan Jepang pada Perang Dunia II

Artikel ini membahas sejarah bagaimana Jepang memulai Perang Dunia II, yang dimulai dengan menyerang mendadak Pearl Harbor tanpa peringatan.

Kira-kira 75 tahun yang lalu, tepatnya 7 Desember 1941. Terjadi serangan militer mendadak yang menggemparkan seluruh dunia, terutama publik Amerika Serikat.

Yak, mungkin beberapa di antara lo ada yang bisa nebak, serangan yang gua maksud adalah serangan atas pangkalan militer AS di Pearl Harbor (Kepulauan Hawaii) oleh 400+ pesawat tempur imperialis Jepang.

Menonton: Latar Belakang Keterlibatan Jepang pada Perang Dunia II

Serangan ini begitu mengejutkan karena dilakukan tanpa peringatan atau deklarasi perang apapun. Terlebih, hal ini dilakukan oleh sebuah negara yang selama ini mengucilkan diri dari dunia luar.

Sebuah negara yang sekilas tidak punya kepentingan apapun pada percaturan politik dunia, tiba-tiba saja melakukan serangan mendadak pada salah satu negara superpower, yang juga sekaligus menjadi pemicu Perang Dunia II.

“Kenapa yah Jepang cari gara-gara aja nyerang Pearl Harbor? Padahal selama ratusan tahun Jepang selalu menutup diri terhadap dunia luar. Kenapa tiba-tiba Jepang ikut memulai Perang Dunia II?”

Terkait dengan pertanyaan di atas, banyak orang menyamakan kondisi Jepang dengan Jerman: “Ah, keduanya kan sama-sama dikuasai diktator dan militerisme yang berniat menguasai dunia!”

Pada kenyataannya, tidak sesederhana itu. Penyebab, latar belakang, akar masalah Jepang menyerang Pearl Harbor dan memulai PD2 di Pasifik berbeda jauh dari latar belakang Jerman memulai PD2 di Eropa.

Nah, untuk mengurai akar masalahnya ini, mari kita telusuri bersama sejarah budaya Jepang yang menarik ini.

jepang di perang dunia 2
Keterlibatan Jepang di Perang Dunia 2.

Era Ninja dan Samurai…Berakhir!

Kita akan mulai penelusuran sejarah ini pada masa ketika kekuasaan kaum samurai mulai berakhir, yaitu sekitar pertengahan abad ke-19.

Misionaris-misionaris Agama Kristen asal Amerika yang berada di Cina terus mengabarkan kekejaman tentara Jepang kepada media AS.

Hal ini membuat publik AS makin membenci Jepang! Cina juga menolak menyerah, dan terus mengobarkan perlawanan, bahkan setelah pasukan Jepang menguasai seluruh pantai Cina!

Perang melawan 400 juta rakyat Cina tidak berjalan singkat seperti keinginan para petinggi AD Jepang.

3. Upaya Menguasai Sumber Daya Alam

Kembali pada rencana awal untuk menguasai SDA, masalahnya mau ke Utara (Hokushin) atau Selatan (Nanshin) nih? Setelah perang dengan Cina semakin panas, perwira-perwira AD Jepang di Manchuria tetap ngotot untuk menyerbu ke utara.

Mereka berkali-kali bergerak di luar perintah dari pusat dan terus-terusan memprovokasi tentara-tentara Uni Soviet dan Mongolia (Saat itu Mongolia adalah sekutunya Uni Soviet). Puncaknya adalah insiden kecil di desa Nomonhan (11 Mei–15 September 1939). Insiden ini juga sama konyolnya seperti di jembatan Marcopolo.

hokushin-ron-map
Tahap-tahap rencana merembut SDA pada jalur Hokushin (Utara)

Jadi pada 11 Mei 1939, ada seorang tentara berkuda mongolia yang entah iseng atau ga sadar memasuki daerah sengketa. Melihat ada 1 orang tentara Mongol, tentara Manchukuo (negara boneka bentukan Jepang) mengusir tentara Mongol tersebut.

Nampaknya tentara Mongol ini tidak terima dengan negara boneka yang sok kuasa ini, dan akhirnya pihak Mongol mendatangkan pasukan besar-besaran, termasuk pasukan Uni Soviet yang merupakan sekutunya Mongolia.

Insiden kecil ini berujung pada pengerahan segenap tentara Jepang di daerah tsb, lengkap truck, tank, meriam, dan pesawat tempur.

Namun, tak seperti di Cina, pihak Jepang “ketemu batunya.” Di Nomonhan, tentara Uni Soviet dipimpin oleh Jendral Georgy Zhukov, jendral terbaik Uni Soviet yang nantinya menjadi pahlawan di PD2! Pertempuran berakhir dengan kekalahan telak tentara Jepang.

Dalam analisisnya setelah kekalahan, jelas sekali AD Jepang kalah segalanya dari AD Uni Soviet: jumlah, tentara, jumlah tank, kualitas tank, kualitas meriam, koordinasi unit, dll.

Dipermalukan sedemikian rupa, hilang sudah nafsu AD Jepang untuk menyerbu Uni Soviet. Jadi, tinggal arah Selatan yang tersisa. Inilah awal mula yang menyebabkan Jepang akhirnya memutuskan menjajah negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

mnra_soldiers_1939
Mongolian troops fight against the Japanese counterattack on the western beach of the river Khalkhin Gol, 1939

Dalam upaya memperluas daerah jajahan dan membendung kekuatan Amerika, Jepang perlu sekutu. Saat itu, negara yang paling realistis bisa dijadikan kawan tinggal Jerman dan Italia.

4. Persekutuan Jepang dengan Hitler

Pada admiral Jepang dari Faksi Perjanjian tahu betul kekuatan industri Amerika Serikat. Admiral Yonai, anggota Faksi Perjanjian, menteri AL di tahun 1939, dan rekan-rekannya semakin khawatir: di saat perang dengan Cina belum selesai juga, para pemimpin dan rakyat Jepang semakin bernapsu menyerang Asia Tenggara!

Dalam pembicaraan resmi, Yonai menyatakan dengan tegas dan jelas: Jepang MUSTAHIL menang dalam perang melawan AS dan Inggris! AL Jepang kalah jumlah, industri Jepang tak mungkin memproduksi keperluan perang sebanyak industri AS dan Inggris!

Yonai dan admiral lain dari Faksi Perjanjian juga memprotes keras usaha faksi lain yang ingin mencoba membangun persekutuan dengan Hitler dari Jerman.

Saat itu, Jerman sudah memulai PD2 di Eropa, Jerman sudah berperang melawan Inggris dan Perancis! Apalagi Yonai, yang menguasai bahasa Jerman, tahu betul bahwa Hitler memandang rendah orang-orang Asia seperti Jepang.

Semula, usaha perlawanan ini cukup sukses. Namun, situasi politik Jepang sudah terkunci oleh dominasi militer. Seperti biasa, menteri AD mengundurkan diri, dan AD menolak mengirim penggantinya, mereka menuntut pengunduran diri Yonai.

Tak punya pilihan lain, Yonai terpaksa mengundurkan diri. Penghalang terbesar berhasil disingkirkan, akhirnya menandatangani “Pakta Berlin” bersama dengan Jerman dan Italia tanggal 27 September 1940.

Maka terciptalah persekutuan antara Jerman, Italia, Jepang dalam ketegangan politik di masa PD2.

pact_of_berlin
Kedutaan besar Jepang di Berlin, September 1940

Akibat perjanjian politik ini, Jepang harus menelan pil pahit karena terkena embargo oleh Amerika Serikat.

AS secara resmi menghentikan export baja ke Jepang sekaligus membekukan semua harta Jepang yg berada di AS. Ini membuat Jepang khawatir, sebab AS adalah eksportir minyak terbesar di dunia, sumber utama minyak Jepang!

5. Kemelut Politik sebelum Serangan Pearl Harbor

Setelah AS menghentikan pengiriman minyak, setelah persekutuan dengan Hitler ditandatangani, markas besar militer Jepang fokus merancang “Strategi Perang mengalahkan Amerika Serikat dan Inggris”.

Tapi lo jangan bayangkan bahwa perancangan ini dilakukan oleh para admiral Jepang papan atas yang berpengalaman di medan tempur, justru rancangan ini dilakukan oleh para perwira muda menengah sekelas mayor dan letkol yang radikal, sembrono, dan cenderung ultra-nasionalis.

Dalam kepala para perwira muda ini, tidak ada analisis untung-rugi, tidak ada pertimbangan rasional untuk jangka panjang.

Bagi mereka, perang melawan AS adalah perang heroik yang harus dihadapi untuk mendapatkan kejayaan Jepang! Untuk harga diri Jepang!

Dengan semangat bushido, niscaya semua ini akan tercapai! Intinya adalah pola pikir Faksi Jalan Kekaisaran dan Faksi Armada.

Merekalah yang pada akhirnya menyetir Jepang menuju jalan peperangan, yang dimulai dengan menjajah wilayah yang kaya dengan SDA di Asia Tenggara.

Pihak yang tak setuju dengan sudut pandang agresif ini bukannya tidak ada. Tapi animo perlawanan terhadap Inggris dan AS sudah terlalu kental.

Ini bukan soal pertimbangan rasional lagi, ini soal harga diri bangsa dan semangat bushido! Setiap kali masalah “perang melawan AS dan Inggris” dirundingkan oleh kementrian Jepang, mereka semua menolak membicarakannya secara gamblang, dan cenderung memberikan opini yang mengambang.

Kaisar Hirohito sendiri menutup rapat mulutnya. Begitu pula PM saat itu, Pangeran Fumimaro Konoe.

hirohito-tojo-konoe
3 tokoh kunci kemelut politik Jepang (dari kiri-kanan): Kaisar Hirohito, Hideki Tojo, Fumimaro Konoe

Konoe sebagai PM saat itu sadar, perang besar sudah di ambang pintu. Dia mengajukan rencana nekat: meminta bertemu LANGSUNG dengan presiden Roosevelt untuk membicarakan hal ini!

Saat itu, semua pihak cenderung setuju bahwa pertemuan ini sangat penting. Pihak AS juga menyambut positif usulan ini.

Apalagi para petinggi militer Jepang juga sebetulnya sudah tau, betapa mustahilnya memenangkan perang melawan kekuatan AS saat itu.

Walaupun kaum ultranasionalis terus mengobarkan bahwa “semangat bushido” itu mampu mengalahkan segalanya. Namun, semua perwira militer tahu persis semangat saja tidaklah cukup untuk melawan armada perang AS.

Dalam rencana pertemuan dengan Roosevelt, jangan dikira semua pihak terpusat pada 1 skenario perdamaian saja.

Situasi politik Jepang yang tumpang-tindih membuat 2 agenda yang bertolak belakang berjalan bersamaan:

  1. Agenda pertemuan dengan Presiden Roosevelt, yang pada hakikatnya bertujuan untuk meredam ketegangan (usaha berdamai)
  2. Agenda untuk menyusun strategi perang mengalahkan Amerika. Pada intinya, jika ingin menyerang AS, harus dilakukan secepat mungkin ketika mereka tidak siap.

Konoe sendiri pada dasarnya seorang yang terlalu perduli pada pencitraan, tapi tak mampu mengambil keputusan.

Saat kedua agenda ini makin bertabrakan, bukannya mengambil kendali dan menulis proposal untuk mengajak AS bertemu secara resmi, dia malah mengurung diri di kantornya. Akhirnya, anak buahnya di kementerian luar negerilah yang menulis proposal tsb.

Tanpa bimbingan sang PM, mereka menulis proposal yang intinya mengulang tuntutan Jepang kepada AS. Tuntutan yang sudah ditolak pihak AS.

Keadaan ini jelas membuat Kaisar Hirohito bingung dan marah. Merasa perlu lebih memahami kesiapan dari kedua agenda ini, akhirnya Hirohito memanggil Konoe.

Karena kerap tidak bisa memberikan penjelasan memuaskan, Konoe memanggil kastaf AD & AL untuk menjelaskan mengapa persiapan perang terus dilakukan kendati upaya diplomasi masih berjalan.

Kaisar juga meminta penjelasan mereka terkait sejauh mana perkembangan persiapan perang & seberapa besar peluang Jepang untuk menang.

Kastaf AD & AL yang diminta penjelasan oleh sang Kaisar, tentu segan dan tidak mau terlihat terlalu mengecewakan.

Lagi-lagi budaya Jepang membuat penjelasan yang seharusnya sederhana menjadi dilematis.

Akhirnya penjelasan mereka jadi berbelit-belit, di satu sisi mereka tau Jepang tidak siap, di sisi lain mereka malu untuk terlihat takut & juga malu untuk mengakui bahwa persenjataan AS jauh lebih unggul dari Jepang. Intinya, respons kastaf ini jadi serba salah.

Dalam pertemuan kabinet keesokan harinya, banyak menteri maupun jendral dalam hatinya berharap Kaisar mengambil keputusan untuk tidak berperang.

Tapi kenyataannya, sang Kaisar bukannya memberikan keputusan, malah memberikan pesan berupa puisi karangan kakeknya yang ditulis saat perang melawan Rusia (1904 – 1905):

“Di empat samudera, semua orang adalah saudara dan saudari. Mengapa, oh mengapa, angin dan ombak hebat ini?”

Para menteri, jendral, dan admiral tinggi Jepang cuma bisa bengong. Bukannya mendapat perintah tegas dan jelas dari sang Kaisar, mereka malah mendapat sebuah puisi!

Puisi yang bisa diartikan sebagai anti perang. Tapi puisi yang bisa dibaca juga sebagai dukungan atas perang (karena konteks pembuatannya dulu saat mulai perang).

Situasi semakin ga jelas setelah Kaisar menyetujui proposal yang ditulis kementerian luar negeri Jepang. Sebuah proposal ngawur yang dari awal sudah pasti akan ditolak oleh AS.

Otomatis pertemuan langsung dengan presiden Roosevelt dibatalkan. Akhirnya Konoe sang PM yang merasa malu karena kegagalannya, mengundurkan diri pada 16 Oktober 1941.

Dalam situasi ini, satu-satunya harapan terakhir adalah Jendral TOJO sebagai menteri Angkatan Darat, yang diangkat kaisar menjadi PM menggantikan Konoe, untuk membatalkan rencana perang melawan AS.

Sayangnya, Tojo bukanlah tipe penggebrak. Dia adalah sosok orang Jepang pada umumnya saat itu, seorang tradisionalis, birokratis, sungkan, malu untuk mengakui kekurangan negara.

Pada intinya tarik-ulur politik Jepang bisa gua bilang adalah korban dari bentuk budaya mereka sendiri pada saat itu.

Ketika sang Kaisar menginginkan Tojo yang meredam nafsu berperang pihak militer, Tojo justru berharap sang Kaisar yang memiliki hak veto untuk memberikan perintah membatalkan perang. 

Pada akhirnya, tidak ada yang mematikan api peperangan yang semakin membesar di kalangan militer Jepang.

yang tadinya pemikiran awal mereka adalah…

“Amerika begitu kuat, kita tidak mungkin menang”

berubah menjadi…

“Amerika begitu kuat. Oleh karena itu kita harus secepatnya menyerang, sebelum mereka bertambah kuat lagi!”

Diplomasi akhirnya menjadi alat untuk menipu pihak Amerika Serikat agar mereka tidak sadar bahwa Jepang sudah mengirim armada kapal induknya untuk menyerang pusat armada Pasifik AS: Pearl Harbor pada 7 Desember 1941.

Ketakutan Jepang kalah dalam perang, pada akhirnya menyeret Jepang ke dalam perang yang dari awal tak mungkin mereka menangkan.

Demikianlah sekelumit kisah kekacauan politik Jepang yang melatar-belakangi keterlibatan Jepang pada Perang Dunia II yang ditandai oleh penyerangan Pearl Harbor.

Gua harap artikel ini bisa menambah wawasan lo tentang sejarah politik dunia, dan bisa secara pro-aktif menelusuri lebih mendalam pada banyak topik sejarah politik lainnya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau diskusi sama Marcel tentang sejarah perang dunia, khususnya keterlibatan Jepang, silakan langsung aja tinggalin komentar di bawah.

Pelajari materi Sejarah di video materi belajar Nomortogelhariini

Sumber

Dan van der Vat: The Pacific Campaign: The US-Japanese Naval War 1941 – 1945

Eri Hotta: Japan 1941: Countdown to Infamy

John A. Adams: If Mahan Ran the Great Pacific War: An Analysis of World War II Naval Strategy

Richard B. Frank: Downfall: The End of the Japanese Empire

Samuel P. Huntington: The Soldier and The State: The Theory and Practice of Civil-Military Relations.

Diposting oleh: nomortogelhariini.net

Kategori: Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button

Bạn đang dùng trình chặn quảng cáo!

Bạn đang dùng trình chặn quảng cáo!