Pendidikan

Kenapa Amerika Serikat Menjatuhkan Bom Atom di Jepang?

Kenapa Amerika Serikat harus menjatuhkan bom atom? Apakah tidak ada alternatif lain? Artikel ini akan mengupas kronologi Perang Pasifik yang klimaksnya adalah ledakan mahadahsyat kedua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Setiap perang memiliki peran dan pengaruh bagi sejarah dunia. Kehancuran dan kematian yang diciptakan perang sudah pasti meninggalkan luka di daerah yang mengalaminya, sekitarnya, dan bahkan di tempat yang jauh dari lokasi perang.

Perang Dunia II adalah perang terhebat dalam sejarah manusia yang otomatis mempengaruhi jalannya sejarah dunia sampai hari ini. Pengaruh yang paling mudah, paling langsung terasa buat kita salah satunya adalah kemerdekaan Indonesia.

Menonton: Kenapa Amerika Serikat Menjatuhkan Bom Atom di Jepang?

Tanpa Perang Dunia II di Asia atau yang kadang disebut juga “Perang Pasifik” ini, kemerdekaan Indonesia takkan tercapai pada 17 Agustus 1945. Tanpa Perang Pasifik ini, bentuk negara Indonesia tidak akan seperti yang kita ketahui sekarang.

Selain kemerdekaan Indonesia, pengaruh lain Perang Pasifik yang amat terasa adalah persenjataan nuklir. Munculnya senjata spektakuler inilah yang menyebabkan terjadinya “Perang Dingin” antara kedua pemenang Perang Dunia II, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perang yang amat berbeda dengan perang-perang sebelumnya. Perang yang tanpa baku tembak pun, kehancuran total bisa terjadi dalam sekejap mata.

Bahkan hari ini, hampir 30 tahun setelah Perang Dingin selesai, dampak persenjataan nuklir masih terasa. Sampai hari ini, Jepang masih menjadi satu-satunya negara yang kotanya dijatuhi bom atom. Seluruh dunia masih ramai membicarakan tewasnya ribuan rakyat Hiroshima dan Nagasaki akibat ledakan mahadahsyat kedua bom atom. Begitu banyak orang masih memperdebatkan:

“Perlu gak sih bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki? Apakah Amerika Serikat memang sekejam itu sampai harus menggunakan bom atom untuk memenangkan perang?”

bom atom hiroshima dan nagasaki
Bom atom Hiroshima dan Nagasaki adalah klimaks kekalahan Jepang di Perang Dunia II.

Ini pertanyaan penting sebab pertanyaan ini akan mempengaruhi perang di masa depan. Proses menjawab pertanyaan ini juga akan menyibak beberapa hal yang kurang diketahui oleh banyak orang.

Gw harap artikel ini bisa membuka perspektif lo supaya bisa melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang, bukan dari satu sisi saja. Lebih lanjut, gw harap artikel ini bisa mengajak lo untuk lebih bijak menyikapi banyak hal, tidak hanya mengenai keputusan pemerintah sendiri, pemerintah asing, tetapi juga keputusan-keputusan yang lo ambil sebagai seorang individu.

Siap-siap yah, soalnya ceritanya panjang nih. Untuk menjawabnya, kita mesti tahu bagaimana jalannya Perang Pasifik yang klimaksnya adalah kedua bom atom. Perjalanan ini adalah dasarnya, alasannya kenapa akhirnya 2 bom atom itu digunakan.

Awal Perang Pasifik

Perang Pasifik adalah perang antara Amerika Serikat melawan Kekaisaran Jepang pada 7 Desember 1941 – 14 Agustus 1945 (kalender Amerika Serikat) atau 8 Desember 1941 – 15 Agustus 1945 (kalender Asia).

Supaya lo lebih nyambung dengan apa yang gw ceritakan, ada baiknya lo baca artikel gw sebelumnya ya:

Intinya, perang terjadi karena ketidakpuasan Jepang akan hasil Perang Dunia I, akan tatanan dunia saat itu yang didominasi oleh negara-negara Barat. Para pemimpin dan rakyat Jepang merasa Jepang sudah ditakdirkan memimpin Asia! Jepang berhak atas sumber daya alam yang berlimpah ruah di Asia, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan negeri Barat lainnya.

Budaya Jepang yang amat mementingkan gengsi, kehormatan, dan rasa malu mengalahkan pertimbangan rasional bahwa perang melawan negeri-negeri Barat, termasuk Amerika Serikat, akan menjadi bencana sendiri buat kekaisaran Jepang. Sifat pasif pemimpin-pemimpin senior Jepang saat itu membuat perang menjadi sebuah keniscayaan.

Tanpa peringatan atau deklarasi perang, Jepang membom Pearl Harbor tanggal 7 Agustus 1941. Amerika Serikat sontak kaget dan merasa seperti ditusuk dari belakang karena pada saat bersamaan Jepang sedang mengusahakan diplomasi perdamaian.

Tak lama setelah serangan Pearl Harbor, pasukan Jepang menyerang jajahan-jajahan negara Barat di Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda. Perang penaklukan dimulai. Perang Pasifik pun dimulai.

Faktor Industri dan Ekonomi

TAHUN JEPANG AMERIKA SERIKAT
1941 6 0
1942 4 18
1943 2 65
1944 5 45
1945 0 13
Total 17 141
Sumber: combinedfleet.com/economic.htm

Sesaat sebelum perang dimulai, jumlah kapal induk Jepang memang lebih banyak. Tapi dengan kekuatan industrinya, Amerika Serikat dengan sigap menyalip dan jauh mengungguli produksi kapal induk Jepang selama Perang Pasifik berlangsung.

Setiap kali melihat tabel ini, gw geleng-geleng dan bergumam:

“Itu orang-orang Jepang otaknya miring yah menyatakan perang melawan Amerika Serikat? Gak takut DIBANJIRI oleh mesin perang Amerika Serikat?”

Jalannya Perang Pasifik

Jomplangnya kemampuan produksi ini terlihat jelas di medan perang. Di awal perang, Jepang yang menang start, menang semangat, apalagi didukung faktor kejutan bisa merebut Asia Tenggara dengan amat mudah dan cepat. Namun, laksamana Yamamoto (komandan armada Jepang) sendiri sudah meramalkan “Enam bulan pertama kita akan sukses. Berikutnya sih gelap.

Periode gelap dimulai Mei 1942, ketika Amerika Serikat bisa mengimbangi Jepang dalam pertempuran Laut Karang. Walaupun pihak Jepang memenangkan pertempuran ini secara taktis, armada mereka membatalkan rencana untuk merebut ibu kota Papua Nugini. Lalu, kegelapan benar tiba pada Juni 1942 dalam pertempuran Midway di dekat Hawaii. Di luar dugaan, Jepang kehilangan 4 kapal induknya sementara Amerika Serikat cuma kehilangan 1. Perhatikan, pertempuran Midway terjadi awal Juni 1942, tepatnya 6 bulan setelah Pearl Harbor. Ramalan Yamamoto menjadi kenyataan.

Setelah Midway, kedua belah pihak bertempur mati-matian di daerah Guadalcanal. Agustus 1942 sampai Febuari 1943, keadaan berimbang. Kedua belah pihak ganti-gantian kehilangan kapal perang. Tapi dengan keunggulan industri seperti yang terlihat pada tabel di atas, Amerika Serikat tak perlu risau dengan kapal induk yang karam karena tergantikan dengan produksi kapal induk baru yang lebih banyak. Lain halnya dengan Jepang.

Setelah Midway dan Guadalcanal, pihak Jepang pun tiba-tiba merasa kesulitan baru: mereka kurang cepat memproduksi pilot! Pelatihan pilot Angkatan Laut (AL) Jepang itu terkenal berat dan sulit. Akibatnya, cuma sedikit pilot yang bisa lulus sekolah penerbangan AL Jepang. Lulusan-lulusan baru sekolah penerbangan ini tidak sebanyak pilot yang gugur di Midway, Guadalcanal, dan tempat lain.

Pihak Amerika Serikat bukan cuma punya lebih banyak calon pilot, tapi sekolah penerbangannya tidak seberat pihak Jepang sehingga produksi pilot mereka juga terus menambah jumlah pilot di kapal induk mereka.

Di tahun 1943, ketika Amerika menerima 65 kapal induk baru, Angkatan Laut Amerika Serikat bergerak. Kehadiran puluhan kapal induk baru ini membuat Amerika Serikat bisa memenuhi langit pulau manapun di Samudera Pasifik dengan pesawat mereka.

“Menang saja tidak cukup. Menang dengan berlebihan, dengan amat telak, OVERKILL, barulah aman!”

Itulah prinsip armada Amerika saat itu. Armada Jepang pun tahu diri, mereka menghindar, tak berani lagi menghadapi armada Amerika Serikat seperti di Midway atau Guadalcanal.

Kenapa Amerika Serikat Menjatuhkan Bom Atom di Jepang? 9
Foto armada tempur Amerika ketika berlabuh di atol Ulithi. Ini benar-benar foto armadanya, BUKAN foto maket atau miniatur!

Akibatnya, armada Amerika Serikat dengan mudah merebut Irian, kepulauan Gilbert, dan Marshall. Tidak ada pulau benteng milik Jepang yang bisa menahan serbuan armada raksasa milik Amerika Serikat ini.

Namun, pihak Amerika Serikat kali ini bertemu dengan sesuatu yang mengejutkan mereka: sikap pantang menyerah pasukan Jepang! Saat pasukan Jepang di pulau-pulau itu terkepung, hampir tidak ada yang menyerah. Sampai titik darah penghabisan mereka bertempur! Bahkan ketika peluru mereka habis, mereka tak segan menyerang tentara dan tank Amerika Serikat dengan katana! Ketika sudah terpojok, ketika tak bisa melawan lagi, ramai-ramai tentara Jepang masih menerjang tentara Amerika Serikat, atau malah … bunuh diri.

Seharusnya sih Jepang Sudah Menyerah…

1. Teror B-29

Di tahun 1944, Amerika Serikat memproduksi senjata terbaru, yaitu pesawat pembom B-29. Pesawat ini bisa mengangkut bom sebanyak 10 ton dan radius terbangnya sekitar 2000 kilometer! Jika kepulauan Mariana jatuh ke tangan Amerika Serikat, badai B-29 akan menerjang Tokyo, Osaka, Kobe, dan kota-kota Jepang lainnya! Jadi, ketika armada raksasa Amerika Serikat bergerak ke arah Mariana, Jepang tak punya pilihan. Armada Jepang harus dikerahkan.

“Pertempuran Laut Filipina” yang terjadi akibat dari pertemuan kedua armada ini berakhir dengan pembantaian. Pesawat Jepang yang kalah jumlah, kalah kualitas, dan kalah taktik disapu bersih dari langit. Tiga kapal induk besar Jepang karam bersama dengan 2 tanker, sementara tak satu kapal Amerika pun karam. Lebih penting lagi, Jepang kehilangan 600-an pilotnya yang amat sulit digantikan karena pelatihan pilot itu sulit dan lama. Apa gunanya kapal induk kalau tak ada pesawat terbangnya?2

Jadi, setelah pertempuran ini, Jepang kehilangan pilot-pilotnya dan kehilangan Mariana. Dalam 1-2 bulan kedepan, badai B-29 akan dimulai. Hujan bom akan menjadi hal rutin buat tanah air Jepang.

2. Blokade Sumber BBM

Saat negeri Jepang sedang dibakar, dihancurkan, diluluhlantakkan oleh pesawat-pesawat B-29, pihak Amerika Serikat meneruskan serangannya.

Sasaran berikutnya, jajahan Amerika Serikat sendiri, Filipina. Oktober 1944, armada dan tentara Amerika bergerak ke Filipina. Kalau Filipina jatuh ke tangan Amerika Serikat, kapal tanker Jepang takkan bisa mengangkut minyak bumi dari Kalimantan dan Sumatera ke tanah air Jepang. Tidak akan ada bensin dan solar buat kapal, pesawat, tank, dan mesin perang Jepang. Jepang pun mengumpulkan sisa armadanya dan mencoba menggagalkan serangan Amerika ini.

Hasilnya, dalam “Pertempuran Teluk Leyte”, armada Jepang tamat riwayatnya. Serangan Amerika ke Filipina tak bisa dibendung.

Sekali lagi, kalau negara lain yang mengalami hal ini, sudah pasti langsung mengibarkan bendera putih. Bagaimana mau berperang kalo gak punya BBM? Namun, INI JEPANG BUNG! Pantang menyerah! Lebih baik mati daripada menyerah!

3. Kelaparan Merajalela di Jepang

Saat itu, rakyat Jepang juga sudah kelaparan. Mereka masih bisa menghasilkan beras di daerah Kyushu dan Korea, tapi rel kereta api untuk mengangkutnya sudah pada putus. Lebih penting lagi, kapal-kapal yang biasa digunakan untuk mengangkut juga tak bisa digunakan lagi. Selat-selat sempit di kepulauan Jepang sudah dipenuhi ranjau-ranjau yang disebar oleh B-29 Amerika.

Akibatnya, kelaparan di mana-mana. Rakyat Jepang sampai harus makan serbuk gergaji sebagai pengganti lauk mereka. Strategi blokade ini akan memakan jutaan nyawa. Tidak dalam sekejap mata, tapi perlahan satu demi satu rakyat Jepang bertumbangan karena kekurangan gizi. Balik lagi ke fakta bahwa kalau negara lain yang mengalami hal ini, mereka pasti sudah mengibarkan bendera putih, menyerah kalah! Tapi ini Jepang bung! PANTANG MENYERAH! SEMANGAT!

Kita Harus Menunggu Satu Pertempuran Terakhir!

Operasi Olympic untuk Menyerbu Tanah Air Jepang
Keputusan Dijatuhkan Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki
Pelajari materi Sejarah di video materi belajar Nomortogelhariini

Berakhirnya Perang Pasifik

Tanggal 6 Agustus 1945 jam 08.16, bom atom “Little Boy” akhirnya dijatuhkan ke kota Hiroshima.

Pihak Jepang heran, kenapa semua komunikasi dengan kota Hiroshima terputus? Mereka terpana saat melihat kota Hiroshima sudah jadi puing. Sekitar 130 ribu rakyatnya tewas, terluka, dan hilang. Setahu mereka, cuma satu B-29 Amerika melewati kota tersebut, bukannya ratusan.

Hari itu juga, pihak Amerika mengumumkan bahwa kehancuran Hiroshima disebabkan oleh bom atom. Ilmuwan-ilmuwan Jepang masih tak percaya Amerika Serikat bisa menghancurkan sebuah kota cuma dengan satu buah bom3.

Ketika para elite Jepang masih shock karena kehancuran Hiroshima, 1,5 juta tentara Uni Soviet menyerang Manchuria pada 9 Agustus jam 1 pagi. Pihak Uni Soviet melancarkan Operasi “Badai Agustus” yang bertujuan merebut Manchuria dan Korea.

Tentara Jepang yang ada di Manchuria tidak siap diterjang jutaan tentara, ribuan tank, dan ribuan pesawat terbang Uni Soviet. Pihak Uni Soviet mengerahkan tentara-tentara terbaiknya, tentara-tentara veteran yang baru saja mengalahkan Nazi Jerman di Eropa. Tentara yang bersemangat untuk membalas dendam atas kekalahan Rusia di perang 1904-1905. Hasilnya adalah pembantaian.

Pasukan Uni Soviet bergerak jauh lebih cepat dengan korban jauh lebih sedikit daripada perkiraan mereka. Hilang sudah harapan Jepang menggunakan jasa Uni Soviet sebagai pendamai.

berakhirnya perang pasifik dan kekalahan jepang
Tank-tank Uni Soviet menyeberangi Great Khingan Mountain di Manchuria sebagai bagian dari Operasi Badai Agustus

Di hari yang sama jam 11 siang, bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki. Ledakan yang lebih hebat dari Hiroshima menghancurleburkan kota tersebut. Dalam sekejap mata, lebih dari 60 ribu rakyat Nagasaki tewas, terluka, atau hilang. Ledakan bom atom kedua ini membuktikan bahwa pihak Amerika Serikat punya lebih dari satu bom atom dan siap menggunakannya4.

Para elite Jepang kini mau tak mau harus mengakui, mereka harus menyerah. Namun, biarpun tahu mereka harus menyerah, mereka masih hendak memberi syarat kepada pihak Amerika Serikat. Mantan PM Fumimaro Konoe langsung mengingatkan, pihak Amerika menuntut “Menyerah tanpa syarat”, memberikan syarat sama saja dengan menolak menyerah. Sayangnya, gengsi para elite ini masih terlalu tinggi untuk “Menyerah tanpa syarat”.

Mendekati tengah malam tanggal 9 Agustus itu, kaisar Hirohito sendiri akhirnya bergabung dalam perdebatan ini. Para menteri mengingatkan sang kaisar, menyerah tanpa syarat bisa berarti berakhirnya kekuasaan kaisar Hirohito, berakhirnya sistem kekaisaran.

Untungnya, kali ini gengsi dan harga diri tidak mengaburkan sang kaisar. Sekitar jam 3-4 pagi tanggal 10 Agustus, Hirohito dan elite Jepang akhirnya menerima kenyataan bahwa mereka harus menyerah tanpa syarat. Budaya Jepang yang mengharamkan kata “Menyerah” akhirnya menyerah juga.

“Cuma” butuh 2 bom atom, kelaparan massal, dan kehancuran total infrastruktur Jepang untuk membuat Jepang menyerah.

Bom atom, kelaparan massal, dan kehancuran total membuat Jepang menyerah
Disaksikan Jenderal Richard K. Sutherland, Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru Shigemitsu menandatangani Japanese Intrument of Surrender di atas kapal USS Missouri, 2 September 1945

Kesimpulan dan Pelajaran Penting

Jadi apa pelajaran yang bisa kita petik dari Perang Pasifik dan dua bom atom ini? Buat gw sih, minimal ada 3 pelajaran penting.

1. Gengsi dan Nasionalisme yang Berlebihan

Pertama, demi gengsi dan nasionalisme yang menghasilkan hasrat untuk menjadikan Jepang negara terhebat di dunia, Jepang berperang melawan Amerika Serikat yang jauh lebih kuat. Gengsi dan nasionalisme memang penting, tapi harus diingat juga, keduanya bisa membutakan akal sehat. Kebutaan pikiran berujung pada matinya jutaan rakyat Jepang dan rakyat lain.

2. Prinsip “Jangan Pernah Menyerah”

Kedua, prinsip “Jangan pernah menyerah” yang begitu sering didengung-dengungkan oleh para motivator. Pada beberapa kasus, prinsip ini sebetulnya bisa mencelakakan. Ada saatnya kita memang harus menyerah. Ada saatnya kita harus mengakui niat dan cara kita salah. Ada saatnya kita harus berhenti, lalu bilang “Maaf, saya salah.

Ini yang enggak pernah dikasih tahu sama para motivator itu, bahwa “Tidak pernah menyerah” itu sama saja dengan “Tidak pernah meminta maaf” sebab permintaan maaf sejati harus diikuti oleh berhenti melakukan apa yang kita sedang lakukan, dan berbalik mundur.

Kita harus tahu kapan kita menyerah berdasarkan data dan fakta yang ada yang diolah secara rasional, bukannya secara baper menggunakan emosi dan tradisi semata seperti yang elite-elite Jepang lakukan waktu itu. Makanya kita harus terus belajar, belajar, belajar. Tahu kapan kita harus menyerah dan tahu kapan kita tidak boleh menyerah adalah pelajaran yang harus kita dalami setiap harinya.

3. Moralitas Bom Atom

Kita tentunya berharap dunia ini damai-damai saja. Tapi di setiap masa, ada saja pihak yang tidak puas dan ingin mengubah tatanan dunia yang sudah ada. Tambah lagi, tidak seperti dunia dongeng, di mana ada pilihan baik dan ada pilihan buruk, di dunia nyata sering kali kita berhadapan dengan kemungkinan buruk dan super buruk.

Bom atom Hiroshima dan Nagasaki adalah pilihan mengerikan. Namun, alternatifnya jauh lebih mengerikan lagi, yaitu tewasnya sebagian besar rakyat Jepang karena kelaparan atau tewasnya jutaan rakyat Jepang dan tentara Amerika Serikat akibat Operasi Olympic.

Dihadapkan pada pilihan seperti itu, pihak Amerika Serikat saat itu terpaksa mengambil pilihan untuk menjatuhkan bom atom. Pilihan-pilihan ini disediakan bukan cuma oleh pihak Amerika Serikat, tapi juga oleh pihak Jepang.

Pilihan yang jauh lebih baik adalah Jepang menyerah bulan Juni 1944, sebelum kotanya dibakar oleh hujan bom, sebelum kapal-kapal tempur Amerika meneror pantai-pantai Jepang. Sebelum ratusan ribu orang Jepang tewas akibat badai api di kota-kota yang dibom. Sebelum kekurangan BBM menghancurkan ekonomi dan militer Jepang.

Menyalahkan pihak Amerika Serikat sebagai “tak bermoral” itu mudah. Menerima tanggung jawab bahwa bom atom itu adalah konsekuensi tingkah laku Jepang itu sulit. Teramat sulit. Ngapain mengakui kesalahan kalau bisa mengaku-ngaku jadi korban?

Tapi, daripada gw sendiri yang kasih kesimpulan di sini dan kita cuma nunjuk-nunjuk kesalahan orang lain, gw coba tanyakan balik ke lo.

Coba tempatkan diri lo sebagai pengambil keputusan saat itu

Jika lo ada di posisi elite Jepang. Apakah lo akan mengambil langkah yang sama dengan mereka saat itu? Apakah mengorbankan jutaan rakyat adalah harga yang sepadan demi supremasi negara Jepang? Apakah lo setuju dengan semangat pantang menyerah Jepang yang mengandalkan semuanya di one final battle? Apakah menurut lo Jepang pantas menerima bom atom atas tingkah lakunya sendiri?

Sekarang, coba lo yang ada di posisi elite Amerika Serikat. Apa yang akan lo lakukan kalo ada negara lain yang tiba-tiba menyerang tanpa peringatan sekalipun? Apa lo lebih memilih diplomasi damai dengan risiko dianggap lembek oleh rakyat sendiri dan keluarga korban yang menuntut pertanggungjawaban atas hilangnya nyawa prajurit AS? Ketika lo dihadapkan dengan Jepang yang gak nyerah-nyerah, apakah lo memilih melaksanakan Operasi Olympic, meneruskan bencana kelaparan, atau juga terpaksa menjatuhkan bom atom?

Ayo coba utarakan pendapat lo. Kita diskusi di bagian komen di bawah ya.

Referensi

Dan van der Vat: The Pacific Campaign: The US-Japanese Naval War 1941 – 1945
Edward T. Sullivan: The Ultimate Weapon
Eri Hotta: Japan 1941: Countdown to Infamy
John A. Adams: If Mahan Ran the Great Pacific War: An Analysis of World War II Naval Strategy
Richard B. Frank: Downfall: The End of the Japanese Empire
Richard B. Frank: Guadalcanal
Samuel Elliot Morison: The Two Ocean War
Tsuyoshi Hasegawa: Racing The Enemy

“The Atomic Bombing of Hiroshima and Nagasaki”
http://www.atomicarchive.com/Docs/MED/med_chp10.shtml diakses tanggal 11 Agustus 2018

“Why Japan Really Lost the War”:
http://www.combinedfleet.com/economic.htm diakses tanggal 11 Agustus 2018.

Sumber Peta & Foto

Wikimedia commons: https://imgur.com/a/mOvzk

Pinterest

Catatan

[1] Ketika tentara Jepang merebut Singapura dan Malaysia, mereka juga merebut beberapa roll film Hollywood terbaru: “Gone With the Wind” dan “Snow White and Seven Dwarves”. Ketika serdadu-serdadu Jepang menonton film itu, mereka tertegun. “Kita lagi melawan orang² yang bisa bikin film dengan teknologi secanggih ini???”

[2] Pertempuran ini begitu tak berimbangnya sampai disebut “The Great Marianas Turkey Shoot” sebab pihak Amerika seperti menembaki kalkun, bukannya pasukan lawan.

[3] Downfall hal. 270.

[4] Downfall hal. 290.

Diposting oleh: nomortogelhariini.net

Kategori: Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button

Bạn đang dùng trình chặn quảng cáo!

Bạn đang dùng trình chặn quảng cáo!