Pendidikan

Gimana Caranya Supaya Bisa Jadi Gaul?

Gak semua orang bisa jadi gaul. Gimana cara menghindari momen-momen awkward? Berikut adalah tips untuk membantu kemampuan komunikasi sehari-hari.

Halo, semuanya. Ketemu lagi sama gue, Sasa. Ini adalah tulisan ketiga gue sebagai guest blogger di blog ini. Sebelumnya gue ngebahas tentang pentingnya ospek dan tentang mata pelajaran yang nggak lo suka di sekolah. Kali ini, gue mau ngebahas topik yang berhubungan dengan kehidupan lo sehari-hari. Apaan tuuh?

Pernah nggak sih lo mengalami momen-momen canggung pas ngobrol bareng temen-temen? Lo bingung mulai pembicaraan sehingga terjadilah awkward silence di mana lo nunggu seseorang ngomong duluan untuk memecah keheningan tersebut. Siii…ing. Atau ketika lo kehabisan bahan pembicaraan dan ujung-ujungnya terjadi lagi awkward silence, dan tiba-tiba salah satu di antara lo atau temen lo bilang “ya udah ya, gue cabut dulu.”

Menonton: Gimana Caranya Supaya Bisa Jadi Gaul?

Atau pernah nggak sih lo pura-pura ngecek atau nulis sok penting di hape, padahal ga ada apa-apa juga di hape. Atau lo pakai headphone padahal lagi gak muter lagu tuh (atau bahkan headset-nya gak dicolokin) cuma buat ngehindarin berkomunikasi sama orang lain.

Atau ketika lo ngajak ngobrol orang kayak gini nih:

Lo        : “Apa kabar?

X         : “Baik, makasih. Lo gimana kabar?

Lo        : “Baik. Hehehe. Lo?

Untuk Apa Sih Kita Berkomunikasi?

Kenapa kita butuh komunikasi? Komunikasi itu pada dasarnya adalah untuk bertukar pikiran. Tapi selain itu, komunikasi adalah medium kita untuk mencapai suatu tujuan yang kita inginkan.

Mungkin lo pengen jadi cewek/cowok populer di sekolah. Mungkin lo pengen jadi petinggi organisasi di sekolah. Mungkin lo pengen dikenal sebagai pribadi yang gaul, asik, dan fun.

Gimana caranya lo jadi gaul, kalo kemampuan komunikasi lo cupu?

Atau nggak usah tujuan sampe jadi populer-populer gitu dulu deh. Lo pengen punya teman geng buat sering kumpul bareng aja, lo butuh komunikasi. Lo mau minta tolong nanya2 tentang pelajaran atau PR ke teman2 yang pinter, lo butuh komunikasi. Atau kalo lo mau pedekate sama gebetan, pasti lo harus pande ngomong kan.

Gimana caranya lo mau pedekate sama gebetan kalo ngomong biasa aja ke teman beda jenis kelamin lo canggung? Gimana caranya lo dapat respek dari teman2 atau bahkan punya temen kalo lo ga bisa menyampaikan apa yg lo maksudkan sebenarnya?

Bisa dibilang, komunikasi itu penting banget buat survival lo di lingkungan sosial!

Nah, di sinilah lo butuh komunikasi yang efektif, di mana maksud/intensi/pesan dari kedua belah pihak tersampaikan dengan baik. Buat contoh-contoh yang udah gue kasih tau di awal tadi, menurut kalian, blunder-nya terletak di mana? Padahal nih ya, kalau dilihat-lihat, tata bahasa yang digunain nggak bermasalah dan masih bisa dipahami sama orang lain.

Gimana supaya gue nggak canggung berkomunikasi sama orang lain?

Selain komunikasi verbal yang bisa disampaikan melalui bahasa, ada juga yang namanya komunikasi nonverbal. Kalian tau sama Paul Ekman gak? Jadi, Paul Ekman ini adalah seorang psikolog yang bikin banyak riset terkait emosi, ekspresi wajah, dan microexpression. Kalau kalian pernah nonton TV series Lie to Me, Mas Paul ini penasihat ilmiahnya! Dia kerjaannya baca dan ngedit skrip kemudian ngasih nasihat-nasihat ke aktornya terkait ekspresi muka yang harus ditunjukkan pada saat shooting.

Nah, menurut Paul Ekman, untuk berkomunikasi secara efektif gak cukup hanya sekadar dengan bahasa yang bisa dimengerti orang lain. Tapiii, ada beberapa hal yang patut juga berperan dalam komunikasi, yaitu komunikasi nonverbal, attribution, dan impression management. Menurut gue, untuk mengurangi rasa canggung lo ketika berkomunikasi sama orang lain, bisa dimulai dengan memperbaikin 3 hal ini.

1. Komunikasi Nonverbal

Informasi yang disampein nggak melalui kata-kata, tapi dari ekspresi wajah, kontak mata, pergerakan tubuh, postur, dan bahkan perubahan hormon dalam tubuh kita. Komunikasi nonverbal ini ngebantu orang lain untuk paham sama apa yang lo lagi sampein ke mereka.

Kalau apa yang lo omongin nggak sejalan dengan gimana lo nyampein komunikasi nonverbal lo, orang lain pasti akan bingung karena dua hal tersebut harusnya kongruen. Misalnya lo dikasih kado sama temen lo, trus lo bilang ke dia “Makasih ya, kadonya. Gue suka banget” tapi tampang lo biasa aja, cemberut, atau ketus.

Ngomong-ngomong soal kontak mata, orang yang bohong atau nggak tulus tuh bisa dideteksi dari gimana dia melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya, loh! Orang yang bohong dan nggak tulus biasanya ngedip lebih sering dan pupil matanya membesar. Mereka juga punya kecenderungan untuk menghindari kontak mata, atau malah sebaliknya, mereka berusaha untuk keliatan jujur dan tulus dengan cara melakukan kontak mata dengan intensitas dan frekuensi yang gede.

Trus, jangan juga gerak berlebihan. Semakin lo banyak gerak ketika lo ngomong ama orang lain, semakin lo keliatan lagi canggung, atau lagi nggak bisa nahan emosi. Makanya, sebelum ngomong sama orang lain, usahakan tenangkan diri dulu, biar ntar ngobrolnya jelas dan lancar.

2. Attribution

Proses di mana kita berusaha buat memahami “kenapa orang ngelakuin tingkah laku X dalam situasi tersebut?” “emangnya mereka maunya apa, sih?” dan lain-lain. Attribution ini penting banget dalam proses komunikasi dan bakal berpengaruh gede ke gimana kita bakal ngerespon apa yang orang lain omongin/lakuin.

Bayangin, suatu ketika lo lagi ketemu cowok/cewek yang menarik banget. Lo pengen jalan bareng ama dia trus lo nanya “Minggu depan kita nonton bareng yuk.Lo udah ngebayangin jalan bareng ama orang itu dan seketika impian lo lenyap ketika orang itu bilang “Maaf, gue nggak bisa minggu depan.

Kemudian…lo pun bertanya-tanya kenapa orang itu nolak ajakan lo. Apa karena dia nggak tertarik ama lo kayak lo tertarik ama dia? Atau karena dia udah punya pacar dan nggak ada niatan untuk selingkuh? Atau karena dia punya kesibukan lain dan nggak punya waktu luang?

Kesimpulan yang lo ambil terkait jawaban dari orang itu akan berpengaruh ke self-esteem dan apa yang akan lo lakukan selanjutnya. Kalau misalnya lo nganggep dia sebenernya cuma sibuk doang dalam beberapa waktu yang akan datang, lo mungkin akan nawarin jalan bareng dia kalau misalnya dia udah gak sibuk lagi. Beda cerita kalau lo nganggep dia nggak tertarik ama lo atau dia udah punya pacar. Kecil kemungkinan lo akan ngajak dia untuk jalan bareng.

Untuk tau apa yang lagi dirasain orang lain, gimana orang lain bertindak, kenapa orang bertindak kayak gitu, dan apa maksudnya dia, kadang bisa kita liat langsung dari observasi. Tapi kan, kadang apa yang bisa kita observasi juga terbatas. Nah, untuk mengetahui hal tersebut yang lo butuhkan adalah peka, bisa menginterpretasi situasi dan kondisi, trus yang paling penting… nanya ke orang lain untuk memenuhi rasa ingin tahu lo!

Misalnya, untuk kasus ditolak jalan ama cewek. Ya lo tanya aja ke dianya kenapa dia nggak bisa. Sibuknya apaan. Daripada lo ntar punya asumsi sendiri, galau sendiri :p Itung-itung lo nambah temen baru dan lo bisa mengasah kemampuan lo dalam berkomunikasi.

Terus, untuk mengatasi kecanggungan yang pernah gue alami waktu gue ke kafe: pinter-pinter ngeles. Ngeles di sini nggak berarti harus bohong, loh.Yang gue maksud di sini adalah cerdik, mikir cepat, dan taktis. Bisa aja kan, waktu Mas waiter-nya jawab “Kerja di sini lah, Non.” Langsung gue bales “Oooh, kirain Mas-nya kerja di tempat lain juga.

3. Impression formation

Gimana kita berusaha untuk ngebangun image atau impresi orang terhadap orang lain, suatu objek, atau suatu kejadian. Kita ngebangun image tersebut dengan cara mengatur dan mengontrol informasi yang kita punya dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Seberapa penting sih first impression? Ketika lo pertama kali ketemu ama orang, banyak banget informasi yang masuk ke dalam otak lo: gimana dia berpakaian, gimana dia ngomong, kayak apa sih kelakuan mereka. First impression ini akan menjadi landasan gimana kita berinteraksi ama orang tersebut.

Seberapa akurat kah first impression? Beberapa psikolog sosial telah melakukan eksperimen korelasional antara tingkat percaya diri terkait first impression dengan keakuratan impresi tersebut. Hasilnya? Orang yang nggak percaya sama impresi mereka ternyata punya impresi yang nggak kuat. Semakin tinggi tingkat kepercayaan sama impresi, semakin tinggi tingkat keakuratan impresinya. Tapi, perbedaan poinnya nggak signifikan. Jadi, nggak beda-beda jauh lah.

Makanya, kadang pendapat lo terkait orang pas pertama kali ketemu akan berubah seiring dengan lo semakin kenal sama orang tersebut. Banyak banget tuh temen-temen gue yang meleset jauh first impression-nya terkait gue.“Gue pikir dulu lo bisu!” “Gue pikir dulu lo sering gonta-ganti cowok!Nah, makanyaaa, jangan jadiin first impression sebagai generalisasi terkait kepribadian atau tingkah laku dari orang yang lo ajak berkomunikasi. Kurang bijak sebenernya. Apalagi sampe lo nge-labelin orang tersebut dari first impression.

Perlu gak sih untuk ngebangun first impression yang baik?

Under some circumstances, gue bilang sih… gak penting-penting amat. Seperti yang udah gue bilang di atas. First impression tuh kadang-kadang meleset. Apa yang bikin first impression meleset? Ya karena orang punya kecenderungan untuk membangun image yang baik di hadapan orang lain, padahal aslinya dia gak baik-baik amat. Berusaha untuk “terlihat baik” di hadapan orang lain bisa bikin kita ngerasa lebih baik. Makanya, bagi gue, ngebangun impresi yang baik di hadapan orang itu perlu, tapi jangan terlalu jauh dari kondisi lo yang sebenernya. Jangan sampe orang lain masang ekspektasi yang ketinggian terkait elo-nya, trus ujung-ujungnya mereka kecewa sama elo atau sama ekspektasi mereka sendiri. Begitu…

****

Nah, sampe di sini, mungkin lo udah ada bayangan ramuan nih buat ningkatin skill komunikasi lo. Mungkin udah ada yang mulai latihan nih di depan kaca buat ngontrol ekspresi mukanya. Atau udah mulai dialog sendiri pura-pura lagi ngomong sama gebetan. Hehehe.

Poin-poin yang gue share di atas baru sedikit dari sekian banyak cara buat ngekatrol kemampuan komunikasi kita. Intinya, semua bisa dilatih. Dari ekspresi wajah sampe kecerdikan lo berpikir buat  ngeles yang enak didengar orang. Awkward pas awal-awal coba, wajar. Namanya juga latihan. Tapi yang penting, terus lo coba. Terus coba berinteraksi. Semakin banyak lo berinteraksi, semakin banyak opportunity yang lo dapetin untuk ngasah trus skill komunikasi lo.

Okeh, happy connecting with people deh. Salam gaul 😉

Referensi
Baron, R.A. & Branscombe, N.R. (2012).Social Psychology Thirteenth Edition. New Jersey: Pearson.
Biesanz, J. C., Human, L.J., Paquin, A., Chan, M., Parisotto, K. L., Sarrachino, J., & Gillis, R. L. (2011). Do we know when our impression of others are vlaid? Evidence for realistic accuracy awareness in impression of personality.Social Psychological and Personality Science, in press.
Ekman, P. (2001). Telling lies: Clues to deceit in the marketplace, politics, and marriage.
Ekman, P. (2003). Emotions revealed. New York: Times Books.
Sumber gambar Lie to Me http://blog.lib.umn.edu/mengx077/writing_1/Capture.PNG
Sumber gambar Kristen Stewart https://hookedoninspiration.files.wordpress.com/2014/04/kristin-stewart-emotional-chart-facial-expressions.jpg?w=540

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada yang mau ngobrol lebih lanjut sama Sasa, bisa langsung tinggalin comment di bawah. Lo juga bisa share pengalaman awkward lo pas bersosialisasi sama teman-teman atau lo bisa share tips juga yang ngebuat lo jadi gaul.

Diposting oleh: nomortogelhariini.net

Kategori: Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button

Bạn đang dùng trình chặn quảng cáo!

Bạn đang dùng trình chặn quảng cáo!